22 Desember 2009

Situs Kuno di Kampus UII Dipastikan Candi Hindu

Situs kuno yang ditemukan di wilayah kampus terpadu Universitas Islam
Indonesia (UI) di Jalan Kaliurang Km 14.4 Sleman, Yogyakarta,
dipastikan merupakan candi kuno.
Hal ini menepis dugaan awal yang menyebutkan situs itu sebagai tempat
pemandian atau petirtaan.

Sebelumnya, penggalian artefak di wilayah kampus itu berhasil
menemukan temuan baru. Proses eskavasi yang dimulai sejak Sabtu 19
Desember lalu hingga hari ini telah menemukan sebuah arca Ganesha dan
Lingga Yoni.

Dengan penemuan terbaru itu maka dapat dipastikan bahwa candi yang
berada lokasi pembangunan perpustakaan UII dipastikan peninggalan
agama Hindu.

Saat ditemui di lokasi penemuan, Selasa (22/12/2009), Ketua Pokja
Pemugaran Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Yogyakarta
Budhy Sancoyo menyatakan, penemuan tersebut menjadikan kepastian bahwa
candi tersebut merupakan candi Hindu.

"Dipastikan candi tersebut merupakan candi Hindu Syiwa," katanya.

Budhy menambahkan, dalam penggalian secara manual kemarin, pihaknya
bersama tim yang berjumlah 10 orang berhasil menggali bebatuan yang
dianggap sebagai pagar utama candi.

Ukuran pagar tersebut lebar tutup pagar 50cm dengan luas halaman utama
6x6meter, serta pintu masuk berukuran 60 cm. "Pada pagar candi utama
di ujung sebelah barat ditemukan antefix atau segi tiga ganda sebagai
hiasan sudut yang searah dengan antefix yang ditemukan di pagar yang
berjarak tujuh meter dari pagar utama sebelumnya," ungkapnya.

Meski benda berbentuk segi tiga ini telah ditemukan, tetapi tak bisa
menjadi alat penentu dari peninggalan apakah candi ini dibuat pada
masa Hindu atau Budha.

Dia memperkirakan proses ekskavasi memerlukan waktu dua pekan ke
depan. BP3, ke depan akan memfokuskan mencari seperti apa bentuk candi
sebenarnya. Selain itu juga akan digali untuk mengetahui kedalaman
candi yang telah terkubur ratusan tahun tersebut.

Rektor UII Edy Suandy Hamid yang dihubungi secara terpisah menyatakan,
kepastian situs itu sebagai candi harus dilihat signifikasinya sebagai
suatu artefak, apakah betul-betul bernilai historis atau tidak.

"Jika memang harus dilindungi, maka pemerintah harus melestarikan dan
menjaganya," ujar guru besar ilmu ekonomi ini.

Menurutnya, jika memang perlu dikaji kemungkinan adanya candi lain di
kompleks UII, maka harus ada pembicaraan yang serius antara pihak
kampus dan pemerintah untuk menjaganya. "Karena hal ini bisa beralih
status, dari milik UII menjadi milik publik," papar rektor kampus
tertua di Indonesia ini.

sumber: okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk meninggalkan jejak disini.. Terimakasih