Setelah terdampar selama 3,5bulan di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof dr
Soeroyo, Kota Magelang, Jawa Tengah, Clara Sumarwati (44), wanita yang
dikabarkan menaklukkan puncak Gunung Everest, dikembalikan ke
keluarganya.
Kepulangan itu terjadi setelah pihak keluarga bersedia menjemput dan
menerima kembali kehadiran Clara di Desa Minggiran, Sleman, DIY. Clara
dijemput dua kakaknya didampingi seorang kerabat lain, sekira pukul
14.00 WIB.
"Sebenarnya kami bukan tidak mau menerima kembali atau keberatan
menjemput Clara. Tapi karena memang faktor waktu, belum punya waktu
luang untuk membawa pulang," kata Tanto, kakak kandung Clara yang rela
meninggalkan pekerjaannya di PT Freeport, Papua demi menjemput adiknya.
Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Prof dr Soerojo Magelang, Bella
Patriajaya, menuturkan proses kepulangan Clara tak lepas dari dukungan
pemberitaan media massa.
"Sebelumnya, kita mengirim tim ke keluarganya untuk memberi penjelasan
sekaligus pendekatan agar bisa menerima kembali Clara. Dan didukung
pemberitaan dari teman-teman media, keluarga akhirnya bisa mengerti dan
mau menjemput pulang," tutur dia.
Menurut Bella, secara medis Clara memang sudah diperbolehkan pulang.
Hanya saja, untuk bisa mencapai total kesembuhan diperlukan dukungan
dan suntikan motivasi dari lingkungan sosialnya, baik keluarga maupun
tetangga atau masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
"Diperbolehkan pulang oleh dokter yang merawatnya belum tentu dia
sembuh total. Untuk mencapai sembuh total diperlukan tiga elemen
pendukung lain, selain tentunya obat. Obat hanya jadi satu elemen
pendukung saja. Karena itu meski sudah boleh pulang, Clara harus tetap
menjalani rawat jalan," bebernya.
Lebih jauh Bella menjelaskan, saat ini yang harus dilakukan oleh
lingkungan sosialnya agar Clara bisa mencapai kesembuhan total adalah
dukungan pemecahan masalah atau solusi. Pihak keluarga harus melakukan
pendekatan dan berbicara dari hati ke hati kepada Clara untuk bisa
mengetahui persoalan yang membuatnya mengalami gangguan kejiwaan.
"Permasalahannya apa, apa karena kurangnya perhatian pemerintah dan
lingkungan atas prestasti yang diraihnya, atau penyebab lain. Kalau
sudah diketahui masalahnya, cari solusi yang tepat agar pikiran dan
mentalnya tidak jatuh. Suntikan motivasi dari orang-orang dekatnya
sangat diperlukan," jelasnya.
Hal lain adalah pengalihan pikiran negatif ke aktivitas yang
menyenangkan. Jika memang Clara menyukai aktivitas mendaki gunung, kata
Bella, beri kesempatan secara luas dan terukur kepadanya untuk
melakukan hobi itu. "Dan terakhir adalah elemen spiritual. Semakin
dekat seseorang kepada Tuhan, pasrah, tentu dia akan terhindar dari
tekanan jiwa dan pikiran yang tidak-tidak. Jadi, selain obat, tiga
elemen lain ini harus menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan agar
dia bisa sembuh total," urainya.
Seperti diberitakan sebelumnya, Clara sempat menjalani pengobatan di
bangsal perawatan RSJ Prof dr Soeroyo sejak 30 Juni lalu. Clara
diketahui mengalami gejala paranoid.
Meski sudah bisa berinteraksi dengan lingkungannya di RSJ dan
menunjukkan kondisi kejiwaan yang bagus, namun pihak keluarga sempat
mengirim surat keberatan untuk menjemput pulang keluarga. Pihak rumah
sakit akhirnya mengirim tim untuk melakukan pendekatan kepada keluarga
agar bisa menerima kembali Clara ke kehidupan normal di lingkungan
tempat tinggalnya.
Sumber: okezone
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan untuk meninggalkan jejak disini.. Terimakasih