16 Oktober 2009

Pemangku Kebudayaan Madiun Gelar Festival

Para pemangku adat istiadat dan kebudayaan tradisional se Badan
Koordinasi Wilayah (Bakorwil) I eks Karsidenan Madiun berkumpul bersama
di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso Kabupaten Tulungagung Jumat
(16/10/2009).
Mereka datang untuk menghadiri Festival Upacara Adat Tradisional yang
diselenggarakan Pemerintah Propinsi Jawa Timur selama 2hari yang
dimulai 16Oktober 2009, para penjaga kebudayaan dari Kabupaten Ngawi,
Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Magetan, Nganjuk, Blitar dan Kota
Blitar ini akan mementaskan adat istiadat masing-masing.
"Total keseluruhan peserta ada 11Kabupaten dan Kota. Setiap daerah
memamerkan adatnya sendiri. Misalnya Kabupaten Tulungagung akan
mementaskan upacara Temanten Kucing, sebagai ritual minta hujan,"
terang Kabag Humas Pemkab Tulungagung Wahyu Adji sekaligus panitia
acara kepada Seputar Indonesia Jumat (16/10/2009).
Pagelaran yang bertema Aktualisasi Nilai Kearifan Lokal Melalui
Konservasi dan Inovasi Gelar Upacara Adat Tradisional ini akan dibagi
dua kelompok. Untuk tanggal 16 Oktober 2009, peserta dari Kabupaten
Ngawi, Ponorogo, Blitar dan Trenggalek akan diberi kesempatan pertama
berunjuk gigi di hadapan juri dan masyarakat.
Disaksikan ratusan penonton dari kalangan pelajar tingkat menengah
Tulungagung, serta Bupati, Wakil Bupati, seluruh jajaran eksekutif dan
muspida, peserta dari Kabupaten Blitar menampilkan ritual upacara
Jamasan Gong Kiai Pradah.
Tepuk riuh penonton sontak membahana ketika tiba adegan macan (harimau)
Lodoyo menyerang para prajurit kraton. "Kita menjadi tahu nilai
kearifan lokal dari masing-masing daerah," papar Wahyu Adjie.
Sedangkan peserta dari Ngawi memperlihatkan adat istiadat Tedak Siti.
Begitu juga dengan Kabupaten Ponorogo memamerkan kebudayaan Piton-piton
Bayi. "Sisanya dilanjutkan besok (17/10) dimulai jam 09.00 WIB," terang
Wahyu Adji.
Acara yang diselenggarakan rutin bergiliran setiap tahun ini bertujuan
untuk mengantisipasi hilangnya kebudayaan lokal masyarakat. Ada yang
lenyap karena dilupakan, atau sirna karena "dicuri" bangsa lain.
Wahyu Adji mencontohkan Reog Ponorogo atau Tari Pendet Bali yang diaku
Negara Malaysia sebagai kebudayaanya. "Dengan adanya agenda ini,
diharapkan tidak ada lagi adat atau kebudayaan kita yang hilang.
Kebetulan tahun ini Tulungagung. Jadi sifatnya hanya ketempatan saja,"
pungkasnya.
Sumber: okezone.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan untuk meninggalkan jejak disini.. Terimakasih