kelas, tidak hanya menjadikan para pelajar yang " masuk ranking" tumbuh
menjadi manusia yang merasa dirinya pintar, egois, dan tidak bisa
menerima kritik, kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil.
Di Indonesia
anak-anak pintar diberi ranking. Akibatnya anak- anak pintar di
Indonesia menjadi sangat tidak menarik," katanya pada acara ramah tamah
dan dialog dengan puluhan mahasiswa dan warga masyarakat Indonesia
di kampus Universitas Queensland (UQ), St.Lucia, kemarin. Akibat
sistem ranking di kelas sekolah-sekolah Indonesia itu, para siswa
berkemampuan biasa merasakan dirinya "loser" ( pecundang) dan kondisi
psikologis tersebut meruntuhkan rasa percaya diri yang sangat
penting, katanya. Produk sistem pendidikan nasional yang menghasilkan
anak-anak pintar namun tidak bisa menerima kritik itu telah dirasakan
dampaknya oleh sejumlah lembaga pemerintah dan non-pemerintah.
Sebagai contoh, Sofyan Djalil menyebut pengakuan sejumlah diplomat
senior Departemen Luar Negeri RI tentang karakter sejumlah diplomat
muda yang sekalipun pintar namun "sangat egois" dan "tidak bisa
dikritik". Di mata Sofyan Djalil, kekeliruan lain dari sistem
pendidikan di Indonesia selama ini adalah tidak berkembangnya
kreativitas anak didik. Dalam bagian lain ceramahnya, anggota Kabinet
Indonesia Bersatu kelahiran Aceh 23 September 1953 ini juga
mengeritisi pemberian dana Biaya Operasional Sekolah ( BOS) yang
disebutnya sebagai " kebijakan yang salah" karena BOS diberikan ke
setiap siswa tanpa kecuali. Menurut menteri yang masih aktif mengajar
di Universitas Indonesia dan beberapa perguruan tinggi terkemuka
lainnya ini, BOS seharusnya diperlakukan sebagai "selective subsidy"
(subsidi terpilih) karena dengan adanya BOS, banyak orang tua murid
tidak lagi merasa perlu membayar biaya pendidikan. Akibatnya
kemampuan sekolah untuk membayar gaji para guru pun berkurang. "BOS
lebih banyak merusak. Sistem sekolah gratis di daerah-daerah itu
salah," katanya. Doktor lulusan Sekolah Hukum dan Diplomasi Fletcher
Universitas Tufts Amerika Serikat itu juga menggarisbawahi fakta
tentang kemampuan berbahasa Inggris banyak lulusan yang diukur dengan
standar TOEFL (Test of English as a Foreign Language) sebagai kendala
para lulusan untuk mendapatkan tawaran beasiswa studi ke luar negeri.
"TOEFL tidak siap. Bahasa jadi kendala," kata mantan menteri Kominfo
ini saat menjelaskan kendala umum bagi banyak pelamar program
beasiswa studi ke luar negeri. Sofyan Djalil mengatakan, kemampuan
berbahasa Inggris itu sepatutnya sudah dibenahi sejak sekolah
lanjutan atas. Sofyan Djalil dan istri, Dr. Ir. Ratna Megawangi,
M.Sc, berada di Brisbane untuk mengunjungi anak mereka yang kuliah di
UQ. Di sela kunjungan pribadinya itu, Sofyan Djalil memenuhi undangan
Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di UQ ( UQISA), Perhimpunan
Masyarakat Muslim Indonesia di Brisbane (IISB) dan Perhimpunan Pelajar
Indonesia di Australia (PPIA) Queensland untuk bertatap muka dan
berdialog dengan kalangan mahasiswa dan warga.
Sumber: Antara News
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan untuk meninggalkan jejak disini.. Terimakasih